Ketika hening menjentik lelapku
Di sebuah malam tanpa paduan suara katak tak beradab dari rawa pinggiran kota
Terjaga oleh sebuah rytme mimpi yang berdesak-desakan
Tentang kenangan – tawa yang hampa – iblis kutu busuk –
politikus bermuka dua - juga tentang perempuan-perempuan bau kencur yang merelakan diri terlelap dalam
pelukan lelaki yang bukan suaminya.
Waktu melompat seakan dikejar malaikat
Ke titik satu, dua, tiga, empat
Namun tak kembali nol
Belum juga tercipta apa-apa
Hanya imajinasi kotor
Hanya pikiran kolot
Hanya jiwa monolog
Hanya kanvas kosong
Sama seperti malam-malam sebelumnya
Aku menemukan sosok yang miskin kata-kata - peradaban –
budaya – dan intelektualisme
Yang sesekali aneh pada dinding-dinding pucat yang setiap
hari menikmati ketelanjangannya
Ruang pucat yang pengap
Hati memilih lelap
Biarlah otak kembali senyap
Lalu kenangan akan lenyap
Di dekap oase yang terlampau gelap
Ruang pucat tak beradab
Dua lajang bermimpi
mati
Tak terdengar hujan sama sekali.
Makassar _ Januari 2013