Di
Solo
Membuka mata
menyusup suara hingar bingar
ke dalam telinga. Gerimis menyentuh kaca
jendela mobil
dingin menggelayut manja lewat angin
subuh yang tak sama
hari kemarin. Lampion-lampion merah
berjejer menggelantung
manis bertuliskan aksara cina
mengingatkanku pada catatan pelajaran
bahasa
mandarin sekolah tua yang kutinggalkan
di meja kontrakan
Temaran subuh
tak diam hatiku bertasbih
biar sejenak waktu berhenti mengais
aku ingin diam pelan – dalam dingin
sedingin harapan yang mulai padam menemukanmu
sampai mentari mengganti lukisan jingga
di ufuk langit yang jauh
di kota solo
Kubayangkan jika kau
yang berdiri dihadapanku
setelah ini
Solo
2013
Tak Perlu
Kau
tak perlu membaca seluruh
sajak
yang kukirim siang itu
cukup
satu saja
dan
kau pasti mengerti
aku
dan kau masih
terhimpun
di sela-sela akar kata
dua
kejadian dari sekian
banyak
kisah cinta
yang
terjadi dalam kota kita
//
Kau
tak perlu belajar
menjadi
angkuh untuk tidak mencintai
pecahan
kenangan yang masih
saling
berpacu dengan ribuan kendaraan
di
setiap jalan yang kau lalui
saat
pulang dan pergi
kembali
ke rumahmu
membuka
pintu kamar
lalu
kembali memandang keluar jendela
menyaksikan
atap-atap rumah
menutup
rahasia
yang
bermukim di dalamnya
//
Kau
tak perlu memutuskan
manakah
yang lebih
kau
cintai
Makassar 2016
Menyimak
Hujan Yang Jatuh di Tubuhmu Siang Ini
----Kepada kampung halaman
Kubayangkan diriku seorang anak kecil
berjingkrak datang ke tubuhmu tanpa malu
dengan tubuh tanpa baju
melahap tetes-tetes hujan
yang menghambur jatuh
di bibirku
sedang para petani sedang lelap usai
menggaru
petak-petak sawah
dan bermimpi hujan jatuh lagi
dan lagi
Sepasang kenangan masa kecil seketika
tumbuh bersama barisan batang pohon kelapa dan
tumbuh bersama barisan batang pohon kelapa dan
padang ilalang di belakang rumah
mengetuk-ngetuk dalam kepala
sampai suatu hari seseorang mengambilnya
karena ayah-ibu
tak kuasa dilibas orang-orang berkuasa
Kaca-kaca jendela buram
membentuk ukiran kenangan masa lalu
ketika ibu menidurkanku
di pangkuan sambil mendendang lagu
memegang corong peniup api
di tangan kirinya
Sebab hidup tumbuh
di antara kepulan asap dapur
penuh kayu bakar
Mungkin hujan adalah pengingat terbaik
tentang sesuatu yang terlupakan
tepat ketika detak-detak jam hanya
terdengar oleh bisu dinding yang memeluk
tubuh mereka sendiri
memendam rahasia
sekalipun kilatan cahaya saling
berkejaran
dengan gelegar menggetar menuju sumsung
bersama pelukan angin
Bulukumba
2016
*Published by Lombok Post Minggu 17 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar