Minggu, 14 Agustus 2016



Di Solo

Membuka mata
menyusup suara hingar bingar 
ke dalam telinga. Gerimis menyentuh kaca jendela mobil
dingin menggelayut manja lewat angin subuh yang tak sama
hari kemarin. Lampion-lampion merah berjejer menggelantung
manis bertuliskan aksara cina
mengingatkanku pada catatan pelajaran bahasa
mandarin sekolah tua yang kutinggalkan
di meja kontrakan
Temaran subuh
tak diam hatiku bertasbih
biar sejenak waktu berhenti mengais
aku ingin diam pelan – dalam dingin
sedingin harapan yang mulai padam menemukanmu
sampai mentari mengganti lukisan jingga di ufuk langit yang jauh
di kota solo

Kubayangkan jika kau
yang berdiri dihadapanku
setelah ini

Solo 2013


 Tak Perlu
Kau tak perlu membaca seluruh
sajak yang kukirim siang itu
cukup satu saja
dan kau pasti mengerti
aku dan kau masih
terhimpun di sela-sela akar kata
dua kejadian dari sekian
banyak kisah cinta
yang terjadi dalam kota kita
//
Kau tak perlu belajar
menjadi angkuh untuk tidak mencintai
pecahan kenangan yang masih
saling berpacu dengan ribuan kendaraan
di setiap jalan yang kau lalui
saat pulang dan pergi
kembali ke rumahmu
membuka pintu kamar
lalu kembali memandang keluar jendela
menyaksikan atap-atap rumah
menutup rahasia 
yang bermukim di dalamnya
//
Kau tak perlu memutuskan
manakah yang lebih
kau cintai

Makassar 2016


Menyimak Hujan Yang Jatuh di Tubuhmu Siang Ini
----Kepada kampung halaman

Kubayangkan diriku seorang anak kecil
berjingkrak datang ke tubuhmu tanpa malu
dengan tubuh tanpa baju
melahap tetes-tetes hujan
yang menghambur jatuh
di bibirku
sedang para petani sedang lelap usai menggaru
petak-petak sawah
dan bermimpi hujan jatuh lagi
dan lagi

Sepasang kenangan masa kecil seketika
tumbuh bersama barisan batang pohon kelapa dan
padang ilalang di belakang rumah
mengetuk-ngetuk dalam kepala
sampai suatu hari seseorang mengambilnya
karena ayah-ibu
tak kuasa dilibas orang-orang berkuasa

Kaca-kaca jendela buram
membentuk ukiran kenangan masa lalu
ketika ibu menidurkanku
di pangkuan sambil mendendang lagu
memegang corong peniup api
di tangan kirinya
Sebab hidup tumbuh
di antara kepulan asap dapur
penuh kayu bakar

Mungkin hujan adalah pengingat terbaik
tentang sesuatu yang terlupakan
tepat ketika detak-detak jam hanya
terdengar oleh bisu dinding yang memeluk
tubuh mereka sendiri
memendam rahasia
sekalipun kilatan cahaya saling berkejaran
dengan gelegar menggetar menuju sumsung
bersama pelukan angin

Bulukumba  2016

*Published by Lombok Post  Minggu 17 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fajar - 30 September 2018