Sebuah Memorian
: Z
Di pesangrahan
Kabut turun serupa cahaya
memeluk lekuk tubuh tinggimoncong
Embun jatuh susuri urat nadi dahan pinus
Selalu terasa wangi lembah-lembah kecil
yang basah oleh hujan pagi hari
Tak habis gigil bangunkan rasa lapar
Menunggu matahari tiba
Aku ingin kau di sini sayang
menapaki jalan basah sambil bercerita
mengapa kita pergi dari kota
Gowa 2015
* Published by Harian Go-Cakrawala Makassar 2016
Kancing
Baju
Ia adalah kisah yang setia menggantung
di balik perih rindu menunggu jemari
mengaitkan
pada lubang yang menganga setia
di belakang pintu kamar berdebu kenangan
Ia seolah sepertimu yang setia
menghitung waktu
Menunggu kekasihmu kembali
atau tak sama sekali
Sedang usia seperti tamu mengetuk kaca
jendela
Menggeser tirai yang berlumut
bias cahaya. Kian hari kian usang
mencatat
berapa kali kau membuka dan menutupnya
Menghempas jika kau lupa
ini tanggal dan bulan ke berapa
Ia
tahu kau masih menunggunya.
Makassar
2016
*Publishesd by Harian Fajar Makassar 2016
Pertanyaan
di hari Ulang Tahun
: SA
Sejak kemarin kau menghitung waktu
pada almanak yang menggantung diam
melihatmu datang dan pergi selaku tamu
dan tuan rumah. Berdebar menunggu sajak
tiba di halaman rumahmu.
Akan lebih nikmat jika
membacanya dengan segelas kopi yang
wanginya
kau hirup lebih dahulu.
Ah, kau sedang berulang tahun rupanya.
Aku mengucap selamat.
Lalu apa yang hendak kau rayakan?
* Published by Koran Go-CakrawalaMakssar 2016
Makassar
2016
Aroma Sunyi
Kesunyian adalah rasa lapar
yang berulang ke lipatan kaki,
menyalakan ingatan suara kekasih
dan rasa iba mata yang menghujam
dari dalam cermin. Suara gaduh pasar
malam
belum juga mati di telinga. Cahaya bola
lampu
hendak pecah memekak mata. Di luar angin
berdesak-desakan masuk ke celah daun
pintu.
Kelebat wajahmu memutar dalam kepala,
sebagaimana
sulur-sulur
markisa yang merambat ke sela dahan
dan
ranting pohon jeruk. Mengepulkan doa dan
rindu
ke segala arah.
Makassar, 2016
* Published by Harian Go-Cakrawala Makassar 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar