Sabtu, 10 September 2016

Memo Bulan Agustus



Memo Bulan Agustus

Kuingin rumahku adalah tubuhmu
tempatku pulang menceritakan segala kisah
Setelah pengembaraan panjang
dan melelahkan

Makassar, 2016





10 september 2016



Matahari Yang Terbit Di Manggala
            : Z

Tak habis kukenang senyummu
lewat matahari yang terbit di Manggala
di bawahnya aku tak menemukan apa-apa
selain rindu yang tabah
berdiam dalam tubuh yang gerah
mengisi ruang kosong penuh bayang-bayang
mengalirkan air mata

Setiap pagi matahari adalah perih
yang mengikat tubuhku
selaku cinta masa lampau
setia membawaku pulang ke dadamu
melintasi zaman dan melihat waktu berlari
di atas kepalaku

Ingin kulepaskan baju yang terbuat dari ingatan
jejak kaki kita yang tertinggal
di pantai tanjung Bayang
dan selongsong kosa kata tak membosankan
melalui sungai yang mengalir di lekuk bibirmu
Tapi kita seolah sepasang jiwa yang diam-diam
menyimpan ketakutan, menghabiskan kekuatan
membawa kehendak pulang
ke dalam lipatan masa

Dan kau tak pernah benar-benar berkata
aku harusnya pergi, tak perlu mengenang
sesuatu dalam kepalaku
Sementara aku menanggung ribuan kutukan
dan menunggu kematian dalam bilik sunyi zaman
bertahun-tahun sejak kepergianmu

Datanglah lagi sebagaimana kata tiba di sini
Telentang tulus dalam sajak yang tak pupus
di ruang kertas-kertas yang memburam
sebagaimana seorang ibu memberi peluk
meletakkan kecupan hangat di kening anaknya
menanggalkan rindu yang lama lelap
dalam doa-doa yang panjang

Makassar 2016

Sabtu, 03 September 2016



Mantra Pengikat Rasa

Perpisahan Menydihkan            Aku pasti sudah gila. Bagaimana mungkin hanya karena patah hati, aku lantas meminta bantuan seorang sanro. Kegilaan itulah yang membawaku duduk manis di hadapan seorang laki-laki berpakaian serba hitam malam hari buta. Melihatnya menikmati segelas kopi dan sebatang rokok. Dialah sanro Dali. Orang yang disodorkan Maryam, sepupuku sebagai solusi.
 “Jadi, apa yang saya bisa bantu?
“Kekasihku pung. Dia pergi dengan perempuan lain.” Jawabku dengan rona wajah  tegang.
Lantang sekali kalimat itu keluar dari mulutku. Tetapi jantungku berdegup lebih dari dari biasanya. Terpikir untuk pulang saja tapi demi mantra pengikat rasa itu, aku membuang semua perasaan yang kurang menyenangkan. Sudah beberapa hari ini kesaktian mantra pengikat rasa itu mengiang di kepalaku. Kupikir tidak salah aku mencobanya. Aku ingin membuktikan apa benar mantra itu bisa bekerja atau tidak. Di hadapan sanro itu, aku merasa selangkah lebih dekat menuju tujuanku.

Fajar - 30 September 2018