Ia mencium tangan perempuan tua yang duduk di kursi
kayu ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang saat mereka bertemu muka. Perasaan
kikuk tiba-tiba menyerangnya. Ia tak berani memandang sorot mata senja itu cukup
lama. Keyakinannya penuh kalau perempuan itu mertuanya.
“Ini Rosmalinah, bu.” Sela Rusmin yang datang
tiba-tiba.
“Rosmalinah.
Senang bertemu dengan ibu.” Tak ada
reaksi berlebih dari mertuanya. Kecuali senyum kecut melengkung di bibirnya
yang renta. Tak ada kata iya atau silahkan duduk atau kata lain yang mewakili. Pandangan matanya lesu mengikuti
langkah Rosmalinah menuju kursi kosong dekat jendela. Ada rasa perih di hatinya
melihat perut Rosmalinah mulai tampak buncit dari balik daster bercorak
bunga-bunga yang dikenakannya. Ternyata benar kabar yang ia terima, kalau
Rusmin akan pulang bersama istri barunya yang sedang hamil muda.
