Minggu, 14 Agustus 2016

Ketika Malam Terasa Asing




Ia mencium tangan perempuan tua yang duduk di kursi kayu ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang saat mereka bertemu muka. Perasaan kikuk tiba-tiba menyerangnya. Ia tak  berani memandang sorot mata senja itu cukup lama. Keyakinannya penuh kalau perempuan itu mertuanya.   
“Ini Rosmalinah, bu.” Sela Rusmin yang datang tiba-tiba.
 “Rosmalinah. Senang bertemu dengan ibu.” Tak ada reaksi berlebih dari mertuanya. Kecuali senyum kecut melengkung di bibirnya yang renta. Tak ada kata iya atau silahkan duduk atau kata lain yang mewakili. Pandangan matanya lesu mengikuti langkah Rosmalinah menuju kursi kosong dekat jendela. Ada rasa perih di hatinya melihat perut Rosmalinah mulai tampak buncit dari balik daster bercorak bunga-bunga yang dikenakannya. Ternyata benar kabar yang ia terima, kalau Rusmin akan pulang bersama istri barunya yang sedang hamil muda.  
Bagi Rosmalinah, segalanya memang tak seperti yang ia bayangkan. Disambut senyum sumringah ibu mertua, dipersilakan duduk dengan ramah, atau mungkin dengan sigap bertanya “ Oh, aku senang kau ada di sini. Sudah berapa bulan usia kandunganmu nak.” Ia buang jauh semua bayangan itu.  Diterimanya sambutan dingin mertuanya dengan senyuman. Apa yang ia saksikan adalah isyarat kalau tak satupun menginginkan kehadirannya, terlebih janin yang sedang dikandungnya. Tiba-tiba saja ia merasa kalau Rusmin pun menikahinya karena terpaksa. Hanya karena ia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Tapi hal itu tidak penting lagi. Baginya Rusmin bersedia menikahinya saja sudah cukup.
Karena itu, ia rela ikut Rusmin pulang ke Indonesia, keluar dari Selangor-Malaysia bersama beberapa TKI illegal sebab Rusmin tidak memiliki passport. Ia juga harus terusir dari rumah karena memilih menikah dengan Rusmin. Sekarang begitu luas daratan dan lautan terbentang antara ia dan keluarganya. Sekian mil jauhnya dari tatapan hangat mata seorang ayah dan ibu. Tetapi ia harus memilih dan pilihannya jatuh pada Rusmin.

***

Baginya memilih adalah hal paling rumit. Andai saja ia tak perlu memilih. Ia ingin keduanya, suami dan keluarganya. Tapi tak satupun yang setuju. Sekalipun itu sebuah bentuk pertanggungjawaban. Berulang kali ia memohon kepada ayah dan ibunya agar merestui hubungan mereka, tapi hasilnya nihil. Ia mengerti Rusmin adalah mantan narapidana. Berulangkali masuk bui karena perkelahian. Juga hidupnya yang tak bisa lepas dari minuman keras dan judi. Rosmalinah yakin Rusmin kelak akan berubah. Ia mengatakan itu berulang kali kepada orang tuanya, tapi itu tidak bisa merubah pendirian keduanya.
Ia sendiri tidak habis mengerti bagaimana bisa menyukai Rusmin. Semua terjadi begitu saja. Berkenalan, lalu berkencang seperti sekian pasangan anak muda yang lain. Sampai suatu hari ia mengandung anak Rusmin. Akhirnya mereka dinikahkan oleh abang Rusmin tanpa restu kelurga Rosmalinah. Belakangan baru Rosmalinah tahu kalau Rusmin telah menikah dua kali. Ia bercerai dari istri pertamanya dan memiliki satu anak perempuan. Sementara istri keduanya seorang perempuan Bugis yang ia tinggal begitu dengan seorang anak laki-laki tanpa status jelas. Tak cukup sampai di situ, desas-desus mengenai Rusmin yang mewarisi ilmu daya pikat dari kakeknya juga sampai ke telinga Rosmalinah. Semacam mantra yang bisa membuat perempuan tergila-gila. Itu mengapa tak susah buat Rusmin mendekati perempuan yang ia inginkan. Konon sewaktu remaja di kampung, Rusmin pernah sekali membuat anak perempuan salah seorang karaeng di tanah Kajang kepincut setengah mati. Sampai-sampai gadis itu tak ingin pulang ke rumahnya. Mengikut kemana pun Rusmin pergi. Barulah perempuan itu kembali ke keluarganya setelah sekian lama di desak keluarga Rusmin. Pernah terlintas dipikiran Rosmalinah, jangan-jangan ia tergila-gila pada Rusmin ada hubungannya mantra tersebut. Ia juga mulai khawatir nasibnya akan sama seperti istri-istri Rusmin sebelumnya. Ditinggal begitu saja setelah melahirkan anak pertama mereka karena Rusmin berhasil menggaet perempuan lain.
Bukan salah siapa-siapa jika ibu mertuanya dan keluarga suaminya yang lain belum bisa menerima kehadirannya. Bukankah segalanya butuh waktu. Ia butuh dikenal dan mengenal. Ia butuh waktu diterima. Terlebih ia tahu kalau ia datang sebagai sebuah aib. Aib yang menyesap masuk ke dalam genangan air yang juga sementara beriak. Dalam hubungan Rusmin dan istri keduanya.
***
“Jadi benar kau sudah menikah dengan perempuan itu Min?” Pelan ibu Rusmin berbisik manakala melihat Rosmalinah sudah masuk ke kamar tamu. Ia seolah tak yakin dengan kenyataan di depan matanya.
“Namanya Rosmalinah bu. Kami sudah menikah dua bulan lalu.” Jawab Rusmin sambil menyulut sebatang rokok yang tersisa di atas meja.
“ Kau memang gila Min. Kapan kau berhenti menyakiti ibumu yang tua ini. Apa lagi yang akan digunjingkan orang-orang kampung nanti?”
“Sudahlah bu, tak usah perdulikan mereka.”
“Tak perduli katamu. Bagaimana ibu bisa tidak perduli. Saban hari Ibumu ini mendengar gunjingan mereka di mana-mana. Suara-suara itu ikut kemana pun ibu pergi.”
“Sudahlah bu, apa perduliku juga kan? Ini hidupku.”
 Rusmin anakku, kapan kau bisa sadar. Baiklah, kau boleh tidak perduli pada Ibumu yang tua ini atau dengan orang-orang itu. Tapi jangan kau tidak perduli pada anak-anakmu. Kau bahkan tidak pernah mengirim sepeser uang pun kepada mereka. Ingat, kau masih berstatus suami dari Susi, istri keduamu. Persoalan kalian belum selesai. Lalu sekarang kau bawa lagi istri barumu ke rumah ini. Oh, mengapa kau tak bunuh saja ibu Min.”
Rusmin tak berkutik. Hanya asap rokok yang keluar dari mulutnya. Mengepul di udara bersama omelan-omelan yang tak putus dari ibunya.  
***
Di dalam kamar, Rosmalina terisak dalam hati. Air matanya leleh mendengar pembicaraan Rusmin dan mertuanya.  Namun pantang baginya menyesal. Ia mengusap-ngusap perutnya yang gatal untuk mengalihkan rasa sedih. Malam terasa sangat asing. Jendela yang tidak tertutup rapat meloloskan aroma pekat kemarau ke dalam kamar. Lolongan anjing terdengar pilu dari kejauhan. Tapi kepiluannya masih lebih dari itu. Ingatannya kembali ke hari saat ia pertama kali mengenal Rusmin. 

Bulukumba 2016
* Published by Harian Fajar Makassar ed: Minggu 14 Agustus 2016 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fajar - 30 September 2018