Ia mencium tangan perempuan tua yang duduk di kursi
kayu ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang saat mereka bertemu muka. Perasaan
kikuk tiba-tiba menyerangnya. Ia tak berani memandang sorot mata senja itu cukup
lama. Keyakinannya penuh kalau perempuan itu mertuanya.
“Ini Rosmalinah, bu.” Sela Rusmin yang datang
tiba-tiba.
“Rosmalinah.
Senang bertemu dengan ibu.” Tak ada
reaksi berlebih dari mertuanya. Kecuali senyum kecut melengkung di bibirnya
yang renta. Tak ada kata iya atau silahkan duduk atau kata lain yang mewakili. Pandangan matanya lesu mengikuti
langkah Rosmalinah menuju kursi kosong dekat jendela. Ada rasa perih di hatinya
melihat perut Rosmalinah mulai tampak buncit dari balik daster bercorak
bunga-bunga yang dikenakannya. Ternyata benar kabar yang ia terima, kalau
Rusmin akan pulang bersama istri barunya yang sedang hamil muda.
Bagi Rosmalinah, segalanya memang tak seperti yang
ia bayangkan. Disambut senyum sumringah ibu mertua, dipersilakan duduk dengan
ramah, atau mungkin dengan sigap bertanya “ Oh,
aku senang kau ada di sini. Sudah berapa bulan usia kandunganmu nak.” Ia
buang jauh semua bayangan itu. Diterimanya sambutan dingin mertuanya dengan
senyuman. Apa yang ia saksikan adalah isyarat kalau tak satupun menginginkan
kehadirannya, terlebih janin yang sedang dikandungnya. Tiba-tiba saja ia merasa
kalau Rusmin pun menikahinya karena terpaksa. Hanya karena ia harus
bertanggungjawab atas perbuatannya. Tapi hal itu tidak penting lagi. Baginya
Rusmin bersedia menikahinya saja sudah cukup.
Karena itu, ia rela ikut Rusmin pulang ke Indonesia,
keluar dari Selangor-Malaysia bersama beberapa TKI illegal sebab Rusmin tidak
memiliki passport. Ia juga harus terusir dari rumah karena memilih menikah
dengan Rusmin. Sekarang begitu luas daratan dan lautan terbentang antara ia dan
keluarganya. Sekian mil jauhnya dari tatapan hangat mata seorang ayah dan ibu.
Tetapi ia harus memilih dan pilihannya jatuh pada Rusmin.
***
Baginya memilih adalah hal paling rumit. Andai saja
ia tak perlu memilih. Ia ingin keduanya, suami dan keluarganya. Tapi tak satupun
yang setuju. Sekalipun itu sebuah bentuk pertanggungjawaban. Berulang kali ia
memohon kepada ayah dan ibunya agar merestui hubungan mereka, tapi hasilnya
nihil. Ia mengerti Rusmin adalah mantan narapidana. Berulangkali masuk bui
karena perkelahian. Juga hidupnya yang tak bisa lepas dari minuman keras dan
judi. Rosmalinah yakin Rusmin kelak akan berubah. Ia mengatakan itu berulang
kali kepada orang tuanya, tapi itu tidak bisa merubah pendirian keduanya.
Ia sendiri tidak habis mengerti bagaimana bisa menyukai
Rusmin. Semua terjadi begitu saja. Berkenalan, lalu berkencang seperti sekian
pasangan anak muda yang lain. Sampai suatu hari ia mengandung anak Rusmin. Akhirnya
mereka dinikahkan oleh abang Rusmin tanpa restu kelurga Rosmalinah. Belakangan baru
Rosmalinah tahu kalau Rusmin telah menikah dua kali. Ia bercerai dari istri
pertamanya dan memiliki satu anak perempuan. Sementara istri keduanya seorang perempuan
Bugis yang ia tinggal begitu dengan seorang anak laki-laki tanpa status jelas. Tak
cukup sampai di situ, desas-desus mengenai Rusmin yang mewarisi ilmu daya pikat
dari kakeknya juga sampai ke telinga Rosmalinah. Semacam mantra yang bisa
membuat perempuan tergila-gila. Itu mengapa tak susah buat Rusmin mendekati
perempuan yang ia inginkan. Konon sewaktu remaja di kampung, Rusmin pernah
sekali membuat anak perempuan salah seorang karaeng di tanah Kajang kepincut
setengah mati. Sampai-sampai gadis itu tak ingin pulang ke rumahnya. Mengikut
kemana pun Rusmin pergi. Barulah perempuan itu kembali ke keluarganya setelah sekian
lama di desak keluarga Rusmin. Pernah terlintas dipikiran Rosmalinah,
jangan-jangan ia tergila-gila pada Rusmin ada hubungannya mantra tersebut. Ia juga
mulai khawatir nasibnya akan sama seperti istri-istri Rusmin sebelumnya. Ditinggal
begitu saja setelah melahirkan anak pertama mereka karena Rusmin berhasil
menggaet perempuan lain.
Bukan salah siapa-siapa jika ibu mertuanya dan keluarga
suaminya yang lain belum bisa menerima kehadirannya. Bukankah segalanya butuh
waktu. Ia butuh dikenal dan mengenal. Ia butuh waktu diterima. Terlebih ia tahu
kalau ia datang sebagai sebuah aib. Aib yang menyesap masuk ke dalam genangan
air yang juga sementara beriak. Dalam hubungan Rusmin dan istri keduanya.
***
“Jadi benar kau sudah menikah dengan perempuan itu Min?”
Pelan ibu Rusmin berbisik manakala melihat Rosmalinah sudah masuk ke kamar
tamu. Ia seolah tak yakin dengan kenyataan di depan matanya.
“Namanya Rosmalinah bu. Kami sudah menikah dua bulan
lalu.” Jawab Rusmin sambil menyulut sebatang rokok yang tersisa di atas meja.
“ Kau memang gila Min. Kapan kau berhenti menyakiti
ibumu yang tua ini. Apa lagi yang akan digunjingkan orang-orang kampung nanti?”
“Sudahlah bu, tak usah perdulikan mereka.”
“Tak perduli katamu. Bagaimana ibu bisa tidak
perduli. Saban hari Ibumu ini mendengar gunjingan mereka di mana-mana. Suara-suara
itu ikut kemana pun ibu pergi.”
“Sudahlah bu, apa perduliku juga kan? Ini hidupku.”
“Rusmin anakku,
kapan kau bisa sadar. Baiklah, kau boleh tidak perduli pada Ibumu yang tua ini
atau dengan orang-orang itu. Tapi jangan kau tidak perduli pada anak-anakmu. Kau
bahkan tidak pernah mengirim sepeser uang pun kepada mereka. Ingat, kau masih
berstatus suami dari Susi, istri keduamu. Persoalan kalian belum selesai. Lalu
sekarang kau bawa lagi istri barumu ke rumah ini. Oh, mengapa kau tak bunuh
saja ibu Min.”
Rusmin tak berkutik. Hanya asap rokok yang keluar
dari mulutnya. Mengepul di udara bersama omelan-omelan yang tak putus dari
ibunya.
***
Di dalam kamar, Rosmalina terisak dalam hati. Air
matanya leleh mendengar pembicaraan Rusmin dan mertuanya. Namun pantang baginya menyesal. Ia mengusap-ngusap
perutnya yang gatal untuk mengalihkan rasa sedih. Malam terasa sangat asing.
Jendela yang tidak tertutup rapat meloloskan aroma pekat kemarau ke dalam
kamar. Lolongan anjing terdengar pilu dari kejauhan. Tapi kepiluannya masih
lebih dari itu. Ingatannya kembali ke hari saat ia pertama kali mengenal
Rusmin.
Bulukumba 2016
* Published by Harian Fajar Makassar ed: Minggu 14 Agustus 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar