Jumat, 15 Juni 2012

Kemarau di Matamu, kekasih



Diam-diam kucuri ruang kering di matamu, kekasih
Gersang tak sepetak pun tanah  basah
Pohon yang rapuh
Rerumputan tak sehijau dahulu
Pepohonan diselimuti daun-daun menua
Kelopak bunga berguguran

Hawa yang luka


_ (oleh-oleh untuk seorang kawanku)

Kudapati tangismu buncah di atas sajadah biru
Pelan-pelan  bersujud dalam hening Tahajjud sepertiga malam
Komat-kamit menyebut ribuan do’a  keselamatan

Air mata seperti hujan menembus waktu
Menjemput subuh di ambang pintu
Menikmati kelam alam semesta
Kala mereka lelap dalam mantra

Sabtu, 09 Juni 2012

Cinta





Di purnamakah cinta itu?
Atau dia menggelantung di tepi bulan sabit
Tertidur di pangkuan langit
Di dekap bidadari angkasa
Dikawal ribuan bintang


Ketika malam tiba
Alam raya mengabaikan
Angin tak membawa kabar
Daun-daun kering hanya mampu berserakan di mana-mana
Tak punya jawaban untuk dikatakan
Bahkan sebuah sajak yang menenangkan
Di mana gerangan dia?

Gelas kosong


Pernah aku menuang kopi di Sana
Untuk kau teguk saat penat tiba
Menghirup hangatnya pagi dan senja di sisimu
Berbaur bersama aroma wangi parfummu

Kini,
Gelas itu terlelap
Telungkup di masa kejenuhan menunggu Tuannya
Diam-diam melukis terjal dinding polos di sudut peta negeri sendiri
Sebuah akhir – sebuah kisah
Dalam cerita gelas kosong

Suatu hari
Dia berbisik kepadaku
“Kapan lagi aku menuang kopi dalam dirinya?”

Juni 2012

Fajar - 30 September 2018