Jumat, 13 April 2012

Catatan Maret _

Gadis kecil berponi………….
…..Lagi-lagi dia menatapku sangat lekat. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapan matanya penuh arti di bawah poni rambut yang berkilauan di sentuh cahaya lampu. Aku menatap balik mata kecilnya yang indah. Kulihat kupu-kupu cokelat kelam sangat menawan di sana. Mengitari jernihnya aliran sungai yang entah bermuara di mana. Pipinya yang kembung seperti ingin meledak di depanku. Mengelusnya aku membayangkan bakpao kembung yang siap di kukus.Tapi lagi-lagi bibir mungilnya hanya terkatup rapat untuk pertanyaanku yang kesekian kalinya.
Sambil merekatkan jarinya yang halus dan hangat. Lama, sangat lama. Kubiarkan detak jam mengiringi tatapan mata kami berdua dalam desahan nafas yang sepi. Kata-kataku bahkan telah habis untuknya. Di depannya aku membayangkan seorang kekasih menatap kekasihnya. Tapi dia seperti kekasih yang mendiamkan kekasihnya. Membiarkan kekasihnya menikmati lekuk-lekuk wajahnya. Membiarkan kekasihnya mengagumi paras kekasihnya. Atau jika aku ini lelaki, maka kuibaratkan dia perempuan menunggu waktu mengatakan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang hanya dia dan Tuhannya yang tahu. Sesuatu yang dia tak tahu memulainya dari angka dan huruf ke berapa dalam abjad. Bahkan udara yang mengisi ruang-ruang kosong hari itu pun tidak akan tahu.
Semakin kurasa jari-jarinya menekuk kuat. Menatapku sekali lagi. Kutatap balik mata coklat itu. Lalu menanti statement kedewasaan yang biasa kudengar dari bibirnya yang seperti mawar merekah di musim hujan. Selalu basah oleh tetesan air kehidupan. Kusentuh pipinya yang selalu seperti daun kecil di temani embum, lalu kutanya sekali lagi mengapa hanya diam. Tapi tetap saja tak ada jawaban. Dia tetap menatap dengan jari yang lekat di jemariku. Saat aku pergi, dia hanya menunduk sambil menatap lekat kursi kosong yang kutinggalkan untuknya. ……> Makassar >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fajar - 30 September 2018