…..Lagi-lagi
dia menatapku sangat lekat. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapan matanya penuh
arti di bawah poni rambut yang berkilauan di sentuh cahaya lampu. Aku menatap
balik mata kecilnya yang indah. Kulihat kupu-kupu cokelat kelam sangat menawan
di sana. Mengitari jernihnya aliran sungai yang entah bermuara di mana. Pipinya
yang kembung seperti ingin meledak di depanku. Mengelusnya aku membayangkan
bakpao kembung yang siap di kukus.Tapi lagi-lagi bibir mungilnya hanya terkatup
rapat untuk pertanyaanku yang kesekian kalinya.
Sambil
merekatkan jarinya yang halus dan hangat. Lama, sangat lama. Kubiarkan detak
jam mengiringi tatapan mata kami berdua dalam desahan nafas yang sepi.
Kata-kataku bahkan telah habis untuknya. Di depannya aku membayangkan seorang
kekasih menatap kekasihnya. Tapi dia seperti kekasih yang mendiamkan
kekasihnya. Membiarkan kekasihnya menikmati lekuk-lekuk wajahnya. Membiarkan
kekasihnya mengagumi paras kekasihnya. Atau jika aku ini lelaki, maka
kuibaratkan dia perempuan menunggu waktu mengatakan sesuatu kepadaku. Sesuatu
yang hanya dia dan Tuhannya yang tahu. Sesuatu yang dia tak tahu memulainya dari
angka dan huruf ke berapa dalam abjad. Bahkan udara yang mengisi ruang-ruang
kosong hari itu pun tidak akan tahu.
Semakin
kurasa jari-jarinya menekuk kuat. Menatapku sekali lagi. Kutatap balik mata
coklat itu. Lalu menanti statement kedewasaan yang biasa kudengar dari bibirnya
yang seperti mawar merekah di musim hujan. Selalu basah oleh tetesan air
kehidupan. Kusentuh pipinya yang selalu seperti daun kecil di temani embum,
lalu kutanya sekali lagi mengapa hanya diam. Tapi tetap saja tak ada jawaban.
Dia tetap menatap dengan jari yang lekat di jemariku. Saat aku pergi, dia hanya
menunduk sambil menatap lekat kursi kosong yang kutinggalkan untuknya. ……> Makassar >

Tidak ada komentar:
Posting Komentar