Di
Cahaya Yang Hampir Habis
Di cahaya yang hampir habis
langit berbuih
Ada semacam kolam
tercipta karena matahari ingin
pergi menuju entah
Lihatlah burung gereja
yang mengolok debar pucuk dahan
sekalipun kau tak mampu
mejadi penerjemah atas bahasa alam
sebagaimana kitat idak tahu
kelak akan datang apa
Di cahaya yang hampir habis
langit berbuih
membenamkan wajah kekasihmu
yang lamat hilang
November
2016
Aku benar-benar tidak percaya bisa
melihatnya lagi. Seperti sesuatu akan melompat keluar dari tubuhku. Cuaca
mungkin sedang panas sehingga berkali-kali kuseka peluh di jidatku. Sementara
tanganku merasakan dingin yang sangat. Seakan terjadi penyumbatan pembuluh
darah di area itu. Ada yang sedang berkejaran di jantungku. Mencabut segala
keseimbangan yang terjaga di detik-detik sebelumnya.Mungkin karena aku terlalu
bahagia. Mungkin juga karena aku tidak siap dengan keadaan di hadapanku. Ia tersenyum
melihatku berdiri mematung di antara lalu lalang orang-orang. Senyum itu, senyum
yang selalu ingin kulihat belakangan ini. Senyum yang tak kutemukan di
mana-mana. Sekalipun aku berada di belahan kota yang lain. Senyum yang kembali
membuatku takluk untuk tidak perlu berkata apa-apa selain hanya menikmatinya
saja. Senyum yang membuat debar dada lebih terasa di pendengaranku. Ah, kalian
pasti pernah merasakan ini. Bukankah aku bukanlah satu-satunya perempuan di
dunia yang tahu bagaimana rasanya berdebar karena disulut senyuman laki-laki yang
kita cintai. Sekalipun kita tidak selalu sama menafsirkan perihal ini.