Pertemuan
itu luka, jika kau tak menginginkannya. Kau menangis dalam hati. Mengutuk hari
yang menjadi perantara antara kau dan dia. Kau
terus menunduk, mengulur kepalamu ke bawah kakimu. Agar kau tak menangkap
siluet kelabu di matanya. Mata yang pernah menatapmu di bawah kerlip kejora langit
kota. Mengajakmu berkeliling, resapi kecupan angin lewati mercusuar tepi
pantai. Kau tetap menunduk. Menjauhi sorot mata itu. Terus…dan teruss… sampai kau bahkan tak bisa melihat
siapa-siapa di sekelilingmu. Selain hanya bayanganmu sendiri.
Apa yang
kau rasakan ketika itu. Tepatnya ketika dia tiba-tiba datang. Melewati pintu
dan duduk tepat di hadapanmu. Kau berbisik ke hatimu “kenangan”. Kenangan
ketika kau menikmati segelas kopi susu di bawah langit malam. Memulai asmara
untuk melupakan masa lalu. Dia yang pernah mencuri waktu mengecup keningmu. Kau
dan dia terbang dengan sayap yang baru. Entah berapa lama. Tapi sayapmu retak
seketika. Saat logika tiba-tiba menyerang hatimu. “Benarkah dia?” Hatimu sendiri masih bertanya setiap hari.
Bahkan terus saja berbisik. “Kau tahu, kau hanya menipu dirimu. Diantara kalian
bukanlah cinta.” Kalian, dua ikan kecil yang merasa kosong. Mencoba saling
melengkapi. Lalu kau sendiri tak mengerti, benarkah ruang kosong itu sekarang
terisi sempurna. Tanpa rasa sakit dari kekasih masa lalumu yang pergi. Tanpa
cinta lelaki yang kau rahasiakan di hadapannya.
Sampai
suatu hari, kau memutuskan. Kau mundur dari hubungan yang tak jelas itu. Kau
marah. Kecewa. Tak menemukan apa yang kau inginkan. Kau sendiri tak mengerti
lelaki itu. Ketika suatu hari kau ingin dia berjalan di sisimu. Berjalan
bersama di sebuah pesta temanmu. Kau mungkin saja ingin merasakan lagi.
Bagaimana berjalan di dekatnya. Memakai gaung yang indah. dia tersenyum
memangdangmu. Hey. Ternyata dia tidak datang. Aku tahu kau pasti kecewa. Iyah.
Siapapun tak ingin dikecewakan bukan? Dan masing-masing dari kita pernah
dikecewakan dan mengecewakan. Kecewa membuatmu menangis, kau jatuh sampai ke
bawah. Tapi logika menarikmu naik ke atas. Memintamu memandang langit malam.
Memintamu berpikir sejenak. Bagaimana
begitu bodohnya hatimu dikelabui. Logika dan rasamu pun kembali bertarung. Logikamu menang. Dan kau kembali ke titik
bawah. Tanpa siap-siapa.
Dan
pertemuan hari ini. Kau mencintai kenangan itu? Katamu tidak. Benar,antara kau
dan dia. Harunsnya tak ada kenangan. Tapi bukan kau yang mengatur pertemuan.
Kau meneguk lebih banyak air putih. Hanya karena pertemuan itu.
Mendadak
rasa kaku itu hilang. Dia berhasil memecahkannya. Dia mulai tersenyum padamu.
Menatap matamu. Membaca pikiranmu. Kau tersenyum membalas. Kalian tertawa. lupa
pada kenangan. Lupa pada kecewa. Lupa pada kekosongan yang pernah saling
mengisi. Hanya Kembali ke sebuah tempat bermil-mil jauh ke belakang. Saat tak
ada secuil pun asmara antara kalian. Kalian adalah diri masing-masing. Tidak
saling mengenal. Hanya saling memandang dari tempat kalian berdiri. Menyelipkan
kenangan manis di setiap senyum yang hanya kalian sendiri penafsirnya. Kau tak
berhak menghentikannya.
Dia. Tepat
di hadapanmu. Seperti saat pertama dia berhasil melupakan duka. Menanyakan
kabar perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya. Dengan bergetar kau
menjawab satu demi satu. Dengan anggun melenyapkan kenangan kebersamaan dalam
ingatanmu yang terjaga sore itu. Bahkan kecupan di kening yang sempat dia curi
hari itu.
Dalam
senyum dan tawa itu. Tepat di bawahnya, kalian bereuni dalam rasa
masing-masing. Kembali ke masa di mana kalian pernah bercumbu dalam kata dan
makna. Melupakan rasa sakit ditinggalkan dan meninggalkan. Lalu kalian
berpisah. Diantara jubel orang-ang dan benda-benda yang diam. Tak ada ucapan
salam perpisahan. Sama seperti ketika kalian berpisah hari itu. Hanya saja,
kali ini kau mengantarnya dengan senyuman.
2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar