Jumat, 11 November 2016

Reuni Rasa




Pertemuan itu luka, jika kau tak menginginkannya. Kau menangis dalam hati. Mengutuk hari yang menjadi perantara antara kau dan dia. Kau terus menunduk, mengulur kepalamu ke bawah kakimu. Agar kau tak menangkap siluet kelabu di matanya. Mata yang pernah menatapmu di bawah kerlip kejora langit kota. Mengajakmu berkeliling, resapi kecupan angin lewati mercusuar tepi pantai. Kau tetap menunduk. Menjauhi sorot mata itu. Terus…dan teruss…  sampai kau bahkan tak bisa melihat siapa-siapa di sekelilingmu. Selain hanya bayanganmu sendiri.

Apa yang kau rasakan ketika itu. Tepatnya ketika dia tiba-tiba datang. Melewati pintu dan duduk tepat di hadapanmu. Kau berbisik ke hatimu “kenangan”. Kenangan ketika kau menikmati segelas kopi susu di bawah langit malam. Memulai asmara untuk melupakan masa lalu. Dia yang pernah mencuri waktu mengecup keningmu. Kau dan dia terbang dengan sayap yang baru. Entah berapa lama. Tapi sayapmu retak seketika. Saat logika tiba-tiba menyerang hatimu. “Benarkah dia?”  Hatimu sendiri masih bertanya setiap hari. Bahkan terus saja berbisik. “Kau tahu, kau hanya menipu dirimu. Diantara kalian bukanlah cinta.” Kalian, dua ikan kecil yang merasa kosong. Mencoba saling melengkapi. Lalu kau sendiri tak mengerti, benarkah ruang kosong itu sekarang terisi sempurna. Tanpa rasa sakit dari kekasih masa lalumu yang pergi. Tanpa cinta lelaki yang kau rahasiakan di hadapannya.


Sampai suatu hari, kau memutuskan. Kau mundur dari hubungan yang tak jelas itu. Kau marah. Kecewa. Tak menemukan apa yang kau inginkan. Kau sendiri tak mengerti lelaki itu. Ketika suatu hari kau ingin dia berjalan di sisimu. Berjalan bersama di sebuah pesta temanmu. Kau mungkin saja ingin merasakan lagi. Bagaimana berjalan di dekatnya. Memakai gaung yang indah. dia tersenyum memangdangmu. Hey. Ternyata dia tidak datang. Aku tahu kau pasti kecewa. Iyah. Siapapun tak ingin dikecewakan bukan? Dan masing-masing dari kita pernah dikecewakan dan mengecewakan. Kecewa membuatmu menangis, kau jatuh sampai ke bawah. Tapi logika menarikmu naik ke atas. Memintamu memandang langit malam. Memintamu  berpikir sejenak. Bagaimana begitu bodohnya hatimu dikelabui. Logika dan rasamu pun kembali bertarung.  Logikamu menang. Dan kau kembali ke titik bawah. Tanpa siap-siapa.
Dan pertemuan hari ini. Kau mencintai kenangan itu? Katamu tidak. Benar,antara kau dan dia. Harunsnya tak ada kenangan. Tapi bukan kau yang mengatur pertemuan. Kau meneguk lebih banyak air putih. Hanya karena pertemuan itu.

Mendadak rasa kaku itu hilang. Dia berhasil memecahkannya. Dia mulai tersenyum padamu. Menatap matamu. Membaca pikiranmu. Kau tersenyum membalas. Kalian tertawa. lupa pada kenangan. Lupa pada kecewa. Lupa pada kekosongan yang pernah saling mengisi. Hanya Kembali ke sebuah tempat bermil-mil jauh ke belakang. Saat tak ada secuil pun asmara antara kalian. Kalian adalah diri masing-masing. Tidak saling mengenal. Hanya saling memandang dari tempat kalian berdiri. Menyelipkan kenangan manis di setiap senyum yang hanya kalian sendiri penafsirnya. Kau tak berhak menghentikannya.
 
Dia. Tepat di hadapanmu. Seperti saat pertama dia berhasil melupakan duka. Menanyakan kabar perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya. Dengan bergetar kau menjawab satu demi satu. Dengan anggun melenyapkan kenangan kebersamaan dalam ingatanmu yang terjaga sore itu. Bahkan kecupan di kening yang sempat dia curi hari itu.

Dalam senyum dan tawa itu. Tepat di bawahnya, kalian bereuni dalam rasa masing-masing. Kembali ke masa di mana kalian pernah bercumbu dalam kata dan makna. Melupakan rasa sakit ditinggalkan dan meninggalkan. Lalu kalian berpisah. Diantara jubel orang-ang dan benda-benda yang diam. Tak ada ucapan salam perpisahan. Sama seperti ketika kalian berpisah hari itu. Hanya saja, kali ini kau mengantarnya dengan senyuman.

 
2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fajar - 30 September 2018