Di
Cahaya Yang Hampir Habis
Di cahaya yang hampir habis
langit berbuih
Ada semacam kolam
tercipta karena matahari ingin
pergi menuju entah
Lihatlah burung gereja
yang mengolok debar pucuk dahan
sekalipun kau tak mampu
mejadi penerjemah atas bahasa alam
sebagaimana kitat idak tahu
kelak akan datang apa
Di cahaya yang hampir habis
langit berbuih
membenamkan wajah kekasihmu
yang lamat hilang
November
2016
Pulang Ke Rumah Ibu
Mungkin salah satu cara mengeringkan luka
adalah pulang ke rumah ibu
menghirup aroma senja yang jatuh
di pucuk-pucuk kelopak kembang
sambil mendengar riuh anak-anak
mengaji dalam telinga
Mungkin salah satu cara melupakan kesedihan
dengan menikmati secangkir teh buatan ibu
sambil melihat ranggas dahan pohon jambu
kembali menjumpai tanah
November
2016
Serupa Kenangan
Aku penah membayangkan
bermukim di tubuhmu
dan melahirkan anak-anak
sajak dari rahimku
Aku menjadi penyair
dengan kata-kata yang terus mengalir
dari deru degup jantungmu
dengan rindu yang tak pernah cukup diucapkan
hanya lewat kata-kata
November
2016
Sebab
Sebab karena doaku
Tuhan pun menjadi iri kepadamu
Maka kuletakkan kembali namamu
dalam ketiadaan
November
2016
Sepotong Sajak
Yang Mengetuk Pintu Rumahmu
Aku sepotong sajak yang mengetuk pintu rumahmu
tentu saja kau akan membukanya
dan memintaku menunggu di ruang tamu
karena ingin menyeduh segelas teh
untuk menemani kita bercengkrama
membicarakan hal-hal yang kita lupakan
di masa lalu
Juli2016
kita tiba di sini
jauh dari masa kanak-kanak yang kubaca
di setiap lembar daun yang jatuh di halaman rumah
kembang ibu yang kian rimbun itu menyimpan segala percakapan
setiap pagi dan petang di beranda
dan malam-malam kita yang didongenkan
senandung kecapi sesekali memenuhi
rongga dada
meliuk ke semesta
hinggap di ubun-ubun
lalu ke pucuk-pucuk kayu jati yang tumbuh
di tapal batas desa
lesap di puncak bukit
tak jauh dari semayam jasad leluhur
kita kenang ibu merentang kasur
selimuti tubuh dengan sepotong selimut berbulu
menutup kelambu dan mengelus rambut sampai
ke ujung
kita khidmat pada senandung kecapi
mengalun di sunyi malam hari
menggiring ke mimpi sambil bernyanyi
kudengar ibu berbisik : bermpilah indah anakku
kita tiba di sini. senandung kecapi tertinggal
dalam ingatan
ketika dentum irama lagu mulai berdebam
di setiap pojok desa
kudengar senandung itu lamat-lamat hilang
dikulum waktu tak bersisa
kecuali hanya sejarah yang dibiarkan lapuk
senandung kecapi yang hilang dibenak
anak cucu
Bulukumba, 2016
Lula Arimbi
Lahir di Bulukumba – Sulawesi Selatan
e-mail: theblueficus@gmail.com
Blog:http://lulaarimbi.blogspot.co.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar