Senin, 28 November 2016



Hasil gambar untuk perempuan bersemedi 


 Di Cahaya Yang Hampir Habis

Di cahaya yang hampir habis
langit berbuih
Ada semacam kolam
tercipta karena matahari ingin
pergi menuju entah
Lihatlah burung gereja
yang mengolok debar pucuk dahan
sekalipun kau tak mampu
mejadi penerjemah atas bahasa alam
sebagaimana kitat idak tahu
kelak akan datang apa

Di cahaya yang hampir habis
langit berbuih
membenamkan wajah kekasihmu
yang lamat hilang

November 2016

Pertemuan Di Losari




Gambar terkaitAku benar-benar tidak percaya bisa melihatnya lagi. Seperti sesuatu akan melompat keluar dari tubuhku. Cuaca mungkin sedang panas sehingga berkali-kali kuseka peluh di jidatku. Sementara tanganku merasakan dingin yang sangat. Seakan terjadi penyumbatan pembuluh darah di area itu. Ada yang sedang berkejaran di jantungku. Mencabut segala keseimbangan yang terjaga di detik-detik sebelumnya.Mungkin karena aku terlalu bahagia. Mungkin juga karena aku tidak siap dengan keadaan di hadapanku. Ia tersenyum melihatku berdiri mematung di antara lalu lalang orang-orang. Senyum itu, senyum yang selalu ingin kulihat belakangan ini. Senyum yang tak kutemukan di mana-mana. Sekalipun aku berada di belahan kota yang lain. Senyum yang kembali membuatku takluk untuk tidak perlu berkata apa-apa selain hanya menikmatinya saja. Senyum yang membuat debar dada lebih terasa di pendengaranku. Ah, kalian pasti pernah merasakan ini. Bukankah aku bukanlah satu-satunya perempuan di dunia yang tahu bagaimana rasanya berdebar karena disulut senyuman laki-laki yang kita cintai. Sekalipun kita tidak selalu sama menafsirkan perihal ini.
“Kau melamun Aini?”

Jumat, 11 November 2016

Reuni Rasa




Pertemuan itu luka, jika kau tak menginginkannya. Kau menangis dalam hati. Mengutuk hari yang menjadi perantara antara kau dan dia. Kau terus menunduk, mengulur kepalamu ke bawah kakimu. Agar kau tak menangkap siluet kelabu di matanya. Mata yang pernah menatapmu di bawah kerlip kejora langit kota. Mengajakmu berkeliling, resapi kecupan angin lewati mercusuar tepi pantai. Kau tetap menunduk. Menjauhi sorot mata itu. Terus…dan teruss…  sampai kau bahkan tak bisa melihat siapa-siapa di sekelilingmu. Selain hanya bayanganmu sendiri.

Apa yang kau rasakan ketika itu. Tepatnya ketika dia tiba-tiba datang. Melewati pintu dan duduk tepat di hadapanmu. Kau berbisik ke hatimu “kenangan”. Kenangan ketika kau menikmati segelas kopi susu di bawah langit malam. Memulai asmara untuk melupakan masa lalu. Dia yang pernah mencuri waktu mengecup keningmu. Kau dan dia terbang dengan sayap yang baru. Entah berapa lama. Tapi sayapmu retak seketika. Saat logika tiba-tiba menyerang hatimu. “Benarkah dia?”  Hatimu sendiri masih bertanya setiap hari. Bahkan terus saja berbisik. “Kau tahu, kau hanya menipu dirimu. Diantara kalian bukanlah cinta.” Kalian, dua ikan kecil yang merasa kosong. Mencoba saling melengkapi. Lalu kau sendiri tak mengerti, benarkah ruang kosong itu sekarang terisi sempurna. Tanpa rasa sakit dari kekasih masa lalumu yang pergi. Tanpa cinta lelaki yang kau rahasiakan di hadapannya.

Senin, 24 Oktober 2016

Melihatmu Ada


Bayangkan sajakku datang
mengelilingi tubuhmu
yang semerbak wangi cahaya senja

mendengar segala perihal
dengan kata yang membuatku lupa
perihal luka di tubuhku




akankah kau tiba di sini
menggenapkan kisah penantian yang
panjang

berbisik manis sekali lagi
"jangan berhenti menulis sajak
untuk kubaca setiap kali aku membuka mata"

Bayangkan sajakku datang
yang menjelma aku
melihatmu ada

 Makassar, 2016

----

Sabtu, 10 September 2016

Memo Bulan Agustus



Memo Bulan Agustus

Kuingin rumahku adalah tubuhmu
tempatku pulang menceritakan segala kisah
Setelah pengembaraan panjang
dan melelahkan

Makassar, 2016





10 september 2016



Matahari Yang Terbit Di Manggala
            : Z

Tak habis kukenang senyummu
lewat matahari yang terbit di Manggala
di bawahnya aku tak menemukan apa-apa
selain rindu yang tabah
berdiam dalam tubuh yang gerah
mengisi ruang kosong penuh bayang-bayang
mengalirkan air mata

Setiap pagi matahari adalah perih
yang mengikat tubuhku
selaku cinta masa lampau
setia membawaku pulang ke dadamu
melintasi zaman dan melihat waktu berlari
di atas kepalaku

Ingin kulepaskan baju yang terbuat dari ingatan
jejak kaki kita yang tertinggal
di pantai tanjung Bayang
dan selongsong kosa kata tak membosankan
melalui sungai yang mengalir di lekuk bibirmu
Tapi kita seolah sepasang jiwa yang diam-diam
menyimpan ketakutan, menghabiskan kekuatan
membawa kehendak pulang
ke dalam lipatan masa

Dan kau tak pernah benar-benar berkata
aku harusnya pergi, tak perlu mengenang
sesuatu dalam kepalaku
Sementara aku menanggung ribuan kutukan
dan menunggu kematian dalam bilik sunyi zaman
bertahun-tahun sejak kepergianmu

Datanglah lagi sebagaimana kata tiba di sini
Telentang tulus dalam sajak yang tak pupus
di ruang kertas-kertas yang memburam
sebagaimana seorang ibu memberi peluk
meletakkan kecupan hangat di kening anaknya
menanggalkan rindu yang lama lelap
dalam doa-doa yang panjang

Makassar 2016

Sabtu, 03 September 2016



Mantra Pengikat Rasa

Perpisahan Menydihkan            Aku pasti sudah gila. Bagaimana mungkin hanya karena patah hati, aku lantas meminta bantuan seorang sanro. Kegilaan itulah yang membawaku duduk manis di hadapan seorang laki-laki berpakaian serba hitam malam hari buta. Melihatnya menikmati segelas kopi dan sebatang rokok. Dialah sanro Dali. Orang yang disodorkan Maryam, sepupuku sebagai solusi.
 “Jadi, apa yang saya bisa bantu?
“Kekasihku pung. Dia pergi dengan perempuan lain.” Jawabku dengan rona wajah  tegang.
Lantang sekali kalimat itu keluar dari mulutku. Tetapi jantungku berdegup lebih dari dari biasanya. Terpikir untuk pulang saja tapi demi mantra pengikat rasa itu, aku membuang semua perasaan yang kurang menyenangkan. Sudah beberapa hari ini kesaktian mantra pengikat rasa itu mengiang di kepalaku. Kupikir tidak salah aku mencobanya. Aku ingin membuktikan apa benar mantra itu bisa bekerja atau tidak. Di hadapan sanro itu, aku merasa selangkah lebih dekat menuju tujuanku.

Minggu, 14 Agustus 2016

Ketika Malam Terasa Asing




Ia mencium tangan perempuan tua yang duduk di kursi kayu ruang tamu. Jantungnya berdegup kencang saat mereka bertemu muka. Perasaan kikuk tiba-tiba menyerangnya. Ia tak  berani memandang sorot mata senja itu cukup lama. Keyakinannya penuh kalau perempuan itu mertuanya.   
“Ini Rosmalinah, bu.” Sela Rusmin yang datang tiba-tiba.
 “Rosmalinah. Senang bertemu dengan ibu.” Tak ada reaksi berlebih dari mertuanya. Kecuali senyum kecut melengkung di bibirnya yang renta. Tak ada kata iya atau silahkan duduk atau kata lain yang mewakili. Pandangan matanya lesu mengikuti langkah Rosmalinah menuju kursi kosong dekat jendela. Ada rasa perih di hatinya melihat perut Rosmalinah mulai tampak buncit dari balik daster bercorak bunga-bunga yang dikenakannya. Ternyata benar kabar yang ia terima, kalau Rusmin akan pulang bersama istri barunya yang sedang hamil muda.  

Sebuah Memorian



Sebuah Memorian
       :  Z

Di pesangrahan
Kabut turun serupa cahaya
memeluk lekuk tubuh tinggimoncong
Embun jatuh  susuri urat nadi dahan pinus
Selalu terasa wangi lembah-lembah kecil
yang basah oleh hujan pagi hari
Tak habis gigil bangunkan rasa lapar
Menunggu matahari tiba

Aku ingin kau di sini sayang
menapaki jalan basah sambil bercerita
mengapa kita pergi dari kota

Gowa 2015
* Published by Harian Go-Cakrawala Makassar 2016




Di Solo

Membuka mata
menyusup suara hingar bingar 
ke dalam telinga. Gerimis menyentuh kaca jendela mobil
dingin menggelayut manja lewat angin subuh yang tak sama
hari kemarin. Lampion-lampion merah berjejer menggelantung
manis bertuliskan aksara cina
mengingatkanku pada catatan pelajaran bahasa
mandarin sekolah tua yang kutinggalkan
di meja kontrakan
Temaran subuh
tak diam hatiku bertasbih
biar sejenak waktu berhenti mengais
aku ingin diam pelan – dalam dingin
sedingin harapan yang mulai padam menemukanmu
sampai mentari mengganti lukisan jingga di ufuk langit yang jauh
di kota solo

Kubayangkan jika kau
yang berdiri dihadapanku
setelah ini

Solo 2013

Fajar - 30 September 2018