Sabtu, 10 September 2016

10 september 2016



Matahari Yang Terbit Di Manggala
            : Z

Tak habis kukenang senyummu
lewat matahari yang terbit di Manggala
di bawahnya aku tak menemukan apa-apa
selain rindu yang tabah
berdiam dalam tubuh yang gerah
mengisi ruang kosong penuh bayang-bayang
mengalirkan air mata

Setiap pagi matahari adalah perih
yang mengikat tubuhku
selaku cinta masa lampau
setia membawaku pulang ke dadamu
melintasi zaman dan melihat waktu berlari
di atas kepalaku

Ingin kulepaskan baju yang terbuat dari ingatan
jejak kaki kita yang tertinggal
di pantai tanjung Bayang
dan selongsong kosa kata tak membosankan
melalui sungai yang mengalir di lekuk bibirmu
Tapi kita seolah sepasang jiwa yang diam-diam
menyimpan ketakutan, menghabiskan kekuatan
membawa kehendak pulang
ke dalam lipatan masa

Dan kau tak pernah benar-benar berkata
aku harusnya pergi, tak perlu mengenang
sesuatu dalam kepalaku
Sementara aku menanggung ribuan kutukan
dan menunggu kematian dalam bilik sunyi zaman
bertahun-tahun sejak kepergianmu

Datanglah lagi sebagaimana kata tiba di sini
Telentang tulus dalam sajak yang tak pupus
di ruang kertas-kertas yang memburam
sebagaimana seorang ibu memberi peluk
meletakkan kecupan hangat di kening anaknya
menanggalkan rindu yang lama lelap
dalam doa-doa yang panjang

Makassar 2016


 Semisal Patah Hati


Maka terimalah sajak ini
selaku air mata dari mata air
: doa yang mengadah
di keramaian masa
Semisal patah hati
menyala merambah
beruas-ruas membuka
lembaran tumpukan
percakapa kita

Semisal patah hati
yang mengkristal dalam dada

Makassar, 2016





2 komentar:

  1. Satu puisi di atas terbit di floressastra ya. selamat menulis,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru perhatikan kalau ada komentarta' di sini. Maklum baru buka blog lagi 😊😊

      Hapus

Fajar - 30 September 2018