Matahari
Yang Terbit Di Manggala
:
Z
Tak habis kukenang senyummu
lewat matahari yang terbit di Manggala
di bawahnya aku tak menemukan apa-apa
selain rindu yang tabah
berdiam dalam tubuh yang gerah
mengisi ruang kosong penuh bayang-bayang
mengalirkan air mata
Setiap pagi matahari
adalah perih
yang mengikat
tubuhku
selaku cinta
masa lampau
setia membawaku pulang ke dadamu
melintasi zaman dan melihat waktu
berlari
di atas kepalaku
Ingin kulepaskan baju yang terbuat dari
ingatan
jejak kaki kita yang tertinggal
di pantai tanjung Bayang
dan selongsong kosa kata tak membosankan
melalui sungai yang mengalir di lekuk bibirmu
Tapi kita seolah sepasang jiwa yang
diam-diam
menyimpan ketakutan, menghabiskan
kekuatan
membawa kehendak pulang
ke dalam lipatan masa
Dan kau tak pernah benar-benar berkata
aku harusnya pergi, tak perlu mengenang
sesuatu dalam kepalaku
Sementara aku menanggung ribuan kutukan
dan menunggu kematian dalam bilik sunyi
zaman
bertahun-tahun sejak kepergianmu
Datanglah lagi sebagaimana kata tiba di
sini
Telentang tulus dalam sajak yang tak pupus
di ruang kertas-kertas yang memburam
sebagaimana seorang ibu memberi peluk
meletakkan kecupan hangat di kening
anaknya
menanggalkan rindu yang lama lelap
dalam doa-doa yang panjang
Makassar
2016
Semisal
Patah Hati
Maka terimalah sajak ini
selaku air mata dari mata air
: doa yang mengadah
di keramaian masa
Semisal patah hati
menyala merambah
beruas-ruas membuka
lembaran tumpukan
percakapa kita
Semisal patah hati
yang mengkristal dalam dada
Makassar, 2016


Satu puisi di atas terbit di floressastra ya. selamat menulis,
BalasHapusSaya baru perhatikan kalau ada komentarta' di sini. Maklum baru buka blog lagi 😊😊
Hapus