Sabtu, 03 September 2016



Mantra Pengikat Rasa

Perpisahan Menydihkan            Aku pasti sudah gila. Bagaimana mungkin hanya karena patah hati, aku lantas meminta bantuan seorang sanro. Kegilaan itulah yang membawaku duduk manis di hadapan seorang laki-laki berpakaian serba hitam malam hari buta. Melihatnya menikmati segelas kopi dan sebatang rokok. Dialah sanro Dali. Orang yang disodorkan Maryam, sepupuku sebagai solusi.
 “Jadi, apa yang saya bisa bantu?
“Kekasihku pung. Dia pergi dengan perempuan lain.” Jawabku dengan rona wajah  tegang.
Lantang sekali kalimat itu keluar dari mulutku. Tetapi jantungku berdegup lebih dari dari biasanya. Terpikir untuk pulang saja tapi demi mantra pengikat rasa itu, aku membuang semua perasaan yang kurang menyenangkan. Sudah beberapa hari ini kesaktian mantra pengikat rasa itu mengiang di kepalaku. Kupikir tidak salah aku mencobanya. Aku ingin membuktikan apa benar mantra itu bisa bekerja atau tidak. Di hadapan sanro itu, aku merasa selangkah lebih dekat menuju tujuanku.

“Namanya siapa?” Kali ini mimik wajahnya lebih serius. Matanya tertuju padaku sambil memperbaiki posisi passapu’ di kepalanya.
“Marno pung.” Jawabku sembari mencuri pandang ke arah pakaian yang dikenakannya.
“Hmmmm, baiklah, itu hal mudah.” Ucapnya sambil meneguk kopinya.
“Kamu punya fotonya?”
Aku menggeleng. Tak ingin menjawab lagi dengan kata-kata. Aku memang tidak memiliki foto Marno lagi. Karena handphone yang memuat beberapa foto kami sedang di servis. Kami juga sangat jarang berfoto bersama. Terakhir kali sebuah foto bekuran 2x3 diambil pula olehnya dari dompetku. Waktu itu dia kekurangan pas photo di kantor pos saat hendak mengirim surat lamaran kerja.
***
            Sebenarnya, aku sendiri ingin melupakan segala hal yang berkaitan dengan Marno. Namun tidak bagi sebagian keluargaku termasuk Maryam. Dia terus menyebut Marno sebagai laki-laki yang perlu diberi pelajaran. Karenanya dia tak berhenti membujukku menemui sanro Dali. Hanya karena dia ingin sekali melihat Marno kembali kepadaku. Aku juga masih cukup sakit jika memikirkan pembicaraan terakhirku dengan Marno.
“Aku tahu May, apa yang ingin kau katakan. Keluargamu memintaku untuk melamarmu sesegera mungkin kan? Tapi maaf, aku belum siap.”
“Lalu sampai kapan aku menunggu?”
“Aku tidak tahu. Lebih baik tidak menungguku.”
“Kau masih butuh waktu kan? Aku akan bicara dengan keluargaku.”
“Masalahnya bukan itu May.”
“Aku sudah menerimamu dengan segala kekuranganmu Mar. Begitu juga keluargaku. Lalu apa masalahnya.”
“Ada yang kau tidak tahu.”
Mataku kembali tertuju padanya. Sambil meneguk minuman di depanku, aku menatapnya penuh tanda tanya.
“Aku tidur dengan perempuan lain.”
“Omong kosong. Kau hanya sedang mengelak dari janjimu.”
“Kali ini kau harus percaya padaku May. Aku dijebak.”
“Dijebak atau kau yang menginginkannya?”
“Terserah kau saja. Tapi kau masih bisa dapat orang yang lebih baik May.”
“Baiklah, apa aku harus melakukannya denganmu juga? Akan kuanggap cinta memang harus serperti itu.”
“Maksudku tidak seperti itu May. Kau perempuan baik-baik. Aku tidak mau menyakitimu.”
“Tapi sekarang kau membunuhku pelan-pelan. Kau tidak tahu bagaimana besarnya harapan keluargaku padamu. Bagaimana aku bisa mengangkat wajahku di hadapan ayah dan ibuku. Aku mempertahankanmu selama tiga tahun.”
“Maafkan aku May. Sungguh ini sangat berat.” Ucapnya lalu meninggalkanku sendiri. Memainkan sendok makan di sebuah warung coto Makassar.
Entah karena pengaruh Maryam atau karena rasa sakit hatiku, tiba-tiba aku berubah pikiran. Aku menelfon dan menyuruhnya membuat janji dengan sanro itu. Aku mengambil cuti beberapa hari dari pekerjaanku dan kembali ke kampung. Sekalipun ada sesuatu yang sedang berkecamuk dalam diriku. Keimananku. Tapi aku mengabaikannya.
***
“Akan kuberi kau dua buah mantra, tapi dengan syarat kau harus yakin dan tidak boleh ragu.”
“Baiklah, aku tahu.”
Dengan tangan dingin dan bergetar kutulis dua paragraf mantra berbahasa konjo itu di atas selembar kertas. Di luar rumah, bulan bersinar terang. Terdengar suara burung hantu dan lolongan anjing dari kejauhan. Aku sedikit bergidik. Kupegang kuat-kuat mantra itu saat kembali ke rumah. Malam terasa sangat panjang. Kata-kata sanro Dali terus mengikutiku sampai ke dalam mimpi.
Asal kau tahu, mantra ini sangat kuat. Kau harus benar-benar menghafalkannya. Ajak dia bertemu dan lakukan seperti yang kuperintahkan. Jika mantra ini bekerja, kupastikan dia tak bisa tidur jika tidak melihatmu sehari saja.
***
Segelas kopi yang kusuguhkan untuknya mengeluarkan aroma wangi. Dia menyeruput dengan pelan dan sangat menikmatinya. Pertemuan yang tak terduga itu membawanya sampai kehadapanku. Dia tak banyak berubah, kecuali kumis dan jenggotnya yang sedikit mulai tumbuh.
“Ini yang selalu saya ingat darimu May. Kau selalu tahu seduhan kopi yang pas buatku. Dan…kamu kelihatan lebih cantik sekarang?”
“Kau mencoba merayuku lagi? Bukankah perempuan itu lebih cantik dariku? Karena itu kau lebih memilihnya.”
“Kamu pasti sangat membenciku May.”
“Iyah. Kau pantas menerimanya.”
“Habiskan kopinya Mar. Sebentar lagi pukul sepuluh malam. Kau masih ingatkan jadwal bertamu di sini?”
“Apa itu berarti aku harus pergi?”
“Aku tidak perlu mengiyakan. Kau tak punya alasan tinggal lebih lama kan?”
“Tapi aku masih ingin di sini May.”
“Sayangnya waktumu sudah habis.”
Dia tersenyum kecut. Hanya menatapku sesaat lalu pergi. Aku melambaikan tangan sampai dia menghilang di jalan raya. Di langit, bulan sabit sedang mengintip malu-malu.
***
            Selembar kertas usang bertuliskan mantra pengikat rasa itu masih terlipat rapi di dalam dompetku. Kucoba membacanya lagi meskipun aku telah sangat menghafalkannya. Ingatanku kembali pada ucapan lain sanro Dali, “Saat dia  datang, suguhkan minuman dan bacakan mantra itu di atasnya.” Tetapi dua puluh menit yang lalu saat kesempatan itu tiba di hadapanku, aku bahkan tak melakukan apa-apa. Mantra itu hanya tertinggal di ujung lidah. Keinginanku untuk membawa kembali Marno ke dalam hidupku memudar begitu saja. Tanpa berpikir banyak kusambar sebuah korek api di atas meja belajar lalu membakar kertas itu. Dalam jilatan api kecil kulihat bayangan Marno, perempuan itu, sanro Dali bahkan Maryam ikut terbakar di dalamnya.
 “Aku tak butuh mantra ini lagi.”
Makassar 2016
Sanro                      : dukun
Passapu’                 : kain hitam berukuran sedang yang dililitkan dikepala laki-laki
(dipakai oleh orang kajang hitam)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fajar - 30 September 2018