Diam-diam kucuri ruang
kering di matamu, kekasih
Gersang tak sepetak pun
tanah basah
Pohon yang rapuh
Rerumputan tak sehijau
dahulu
Pepohonan diselimuti daun-daun
menua
Kelopak bunga berguguran
Itulah kemarau
Menghapus seluruh tawa
yang pernah berderai, dahulu
Mengusir kupu-kupu yang
beranak pinang di sisimu
Menyusutkan
bangunan-bangunan cinta di sekelilingmu
Kau bukan lagi yang
kukenal
Bahkan ingatan tentang
Tuhan menjuntai jauh
Air wudhu tersisa sekali
seminggu menjamah tubuhmu
Aku luka memandangmu
Aku gamang memaknaimu
Melukai jantung sendu
Tapi kita terpisah ribuan
kata
Dari jalan-jalan yang
pernah kita lalui
Ingin kubasuh ruang kering
itu
Dengan segelas air yang
kupunya
Meski hanya segelas air
Kutanam kembali bunga dan
rerumputan
Juga sebuah pohon yang
menyejukkan
Kelak meski hujan
terlambat tiba
Kutatap saja ruang itu di
matamu
@r-etsa 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar