Bak sehelai
daun merana tanpa lagu
Di sebuah
surau dekat danau
Sehabis merenung
gagu tak tentu
Karena
belenggu
Ditinggal
istri yang pergi di kemarau
Bak dua
sejoli dengan segelas kopi
Dalam melodi
yang kau sebut sepi
Bercerita
perih sebelum mati
Sebelum kau
menuju abadi
Kau
tinggalkan sajak seperdua bait yang memuja hening
Juga sebuah
permata yang kau sebut bening
Bertuliskan
inisial “aku” dan “kamu”
Di saksikan
bulan sabit yang menggeram tak kau hirau
Wahai jiwa
pemuja sejati
Mengapa tak kau
pilih meminang lagi
Jika hawamu
telah lama bersuami lagi
Mengapa pula
kau tak bersuara
Jikalau hawamu
jadi istri muda
Betapa lupa
kau dikhianati
Pujaan yang
kau kira pelangi
Betapa lama
kau didera derita
Karena rupa
yang tak tahu etika
Wahai jiwa
pemuja sejati
Puasa telah berhari-hari
Lebaran
sebentar lagi menepi
Mengapa kau
memilih mati?
Romadhan ke 11 2012

wow.. indah.. maungkin ia sengaja meninggalkan tanda biar hening berganti syair...
BalasHapusmakasih.....
Hapusbiar derita menjadi kata....