Selasa, 31 Juli 2012

Balada Lelaki Di Surau



Malam kudapati tubuhmu kaku
Bak sehelai daun merana tanpa lagu
Di sebuah surau dekat danau
Sehabis merenung gagu tak tentu
Karena belenggu
Ditinggal istri yang pergi di kemarau

Bak dua sejoli dengan segelas kopi
Dalam melodi yang kau sebut sepi
Bercerita perih sebelum mati
Sebelum kau menuju abadi
Kau tinggalkan sajak seperdua bait yang memuja hening
Juga sebuah permata yang kau sebut bening
Bertuliskan inisial “aku” dan “kamu”
Di saksikan bulan sabit yang menggeram tak kau hirau

Wahai jiwa pemuja sejati
Mengapa tak kau pilih meminang lagi
Jika hawamu telah lama bersuami lagi
Mengapa pula kau tak bersuara
Jikalau hawamu jadi istri muda
Betapa lupa kau dikhianati
Pujaan yang kau kira pelangi
Betapa lama kau didera derita
Karena rupa yang tak tahu etika

Wahai jiwa pemuja sejati 
Puasa telah berhari-hari 
Lebaran sebentar lagi menepi
Mengapa kau memilih mati?

Romadhan ke 11 2012


2 komentar:

  1. wow.. indah.. maungkin ia sengaja meninggalkan tanda biar hening berganti syair...

    BalasHapus

Fajar - 30 September 2018