Aku benar-benar tidak percaya bisa
melihatnya lagi. Seperti sesuatu akan melompat keluar dari tubuhku. Cuaca
mungkin sedang panas sehingga berkali-kali kuseka peluh di jidatku. Sementara
tanganku merasakan dingin yang sangat. Seakan terjadi penyumbatan pembuluh
darah di area itu. Ada yang sedang berkejaran di jantungku. Mencabut segala
keseimbangan yang terjaga di detik-detik sebelumnya.Mungkin karena aku terlalu
bahagia. Mungkin juga karena aku tidak siap dengan keadaan di hadapanku. Ia tersenyum
melihatku berdiri mematung di antara lalu lalang orang-orang. Senyum itu, senyum
yang selalu ingin kulihat belakangan ini. Senyum yang tak kutemukan di
mana-mana. Sekalipun aku berada di belahan kota yang lain. Senyum yang kembali
membuatku takluk untuk tidak perlu berkata apa-apa selain hanya menikmatinya
saja. Senyum yang membuat debar dada lebih terasa di pendengaranku. Ah, kalian
pasti pernah merasakan ini. Bukankah aku bukanlah satu-satunya perempuan di
dunia yang tahu bagaimana rasanya berdebar karena disulut senyuman laki-laki yang
kita cintai. Sekalipun kita tidak selalu sama menafsirkan perihal ini.
“Kau melamun Aini?”
Aku terperanjat mendengar namaku ia sebut. Hanya menunduk
malu sambil berjalan mendahuluinya. Mencari tempat yang pas untuk kami
berbincang. Losari belum seramai yang kubayangkan saat kami tiba. Kami memutuskan
duduk di atas bangku batu panjang. Dekat sebatang pohon kelapa yang
kelihatannya layu. Dari sana, aroma khas angin laut sangat terasa. Langit malam
sangat pekat. Bahkan tidak satupun bintang yang tampak. Hujan seolah tertahan
di balik awan. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk tumpah ke bumi.Riuh renyah
suara orang-orang datang dan pergi masuk ke telingaku. Bunyi klakson mobil dan
peluit tukang parkir saling silang terdengar. Beberapa perahu kecil yang
tertambat di tepi anjungan bergoyang mengikuti gerak ombak. Pikiranku sejenak
mundur ke beberapa tahun silam saat pertama kali kami saling mengenal.
“Terima kasih sudah mengiyakan undanganku.”
“Tak masalah. Tapi kenapa tiba-tiba ingin bertemu.
Apa ada hal penting yang harus aku tahu?”
Aku memilih untuk tidak segera menjawab. Kecuali melirik
ke arahnyayang duduk tenang di sampingku. Lalu kembali mengalihkan pandangan ke
arah perahu yang bergoyang sambil memikirkan pertanyaannya. Pertanyaan itu,
bisakah aku menjawabnya? Apakah semua pertanyaan di dunia ini butuh jawaban? Bukankah
pertanyaan itu tak perlu ia tanyakan lagi. Seharusnya ia bisa menebak apa yang ingin
kukatakan. Aku juga harusnya mengutarakan segalanya jauh sebelum ia bertanya.
Bukankah pertemuan ini aku buat untuk membuka rahasia hatiku yang selama ini
kusimpan. Tetapisama seperti pada pertemuanku sebelumnya, aku kembali tidak
bisa menguasai diriku. Keberanianku hilang. Keberanian yang kukumpulkan beserta
seluruh kalimat yang tersusun rapi puluhan menit lalu sebelum pertemuan itu
terjadi. Aku ingin menyampaikan lagi dengan bahasa isyarat. Tapi apa dia bisa
membacanya? Sejak lama aku menyampaikan perasaanku lewat isyarat tapi tak
satupun ia baca. Atau mungkin ia hanya berpura-pura tidak tahu. Kuharap saja ia
paham kalau aku merindukannya, itu mengapa aku perlu bertemu
Pada sebuah detik saat mata kami bertemu. Bunyi tik-tok
jam tanganku yang sangat halus sejenak berhenti. Aku mencari diriku yang hilang
dalam teduh sorot matanya. Sedang ia mencari jawaban atas apa yang dia pikirkan
lewat tatapanku. Sorot mata itu,masih sama seperti pertemuan terakhir kami saat
senja di pinggiran kota.Aku belum melupakanyameski kami bukanlah sebuah
kesatuan yang diciptakan. Meski aku dan dia hanya salah satu kisah masa lalu
yang akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Sampai akhirnya sesuatu membuat
kami sama-sama terhenyak.
“Hmm….maaf
sepertinya kamu sangat menikmati hidupmu di kota ini?”
“Yah, begitulah.”
“Apa yang kamu sukai dari kota ini?”
“Tak banyak.” Aku berdiri sejenak menyaksikan
orang-orang yang mulai memenuhi anjungan.
“Lalu mengapa kamu masih di sini? Kamu tidak
berpikir untuk kembali ke kampung halamanmu, atau mungkin melanjutkan hidupmu
di tempat lain?”
“Terkadang kita tak punya pilihan lain selain
tinggal. Sekalipun kita sangat ingin pergi.”
Ia terbahak. Sambil menyentil bahuku. “Ah, bahasamu
terlalu bijak Ai.” Aku ikut tertawa. Entah apa yang kami tertawakan. Mungkin ia
sedang menertawaiku dan aku sedang menertawakan diriku sendiri. Atau mungkin
juga kami hanya ingin tertawa saja. Di dunia ini ada begitu banyak hal yang
bisa ditertawakan. Salah satunya menertawakan diriku yang selalu tampak bodoh
saat berada di hadapannya. Aku mendongak ke langit, hujan belum juga tiba
sementara langit di atas Losari semakin hitam.
“Tapi kau tak perlu kemana-mana Aini. Bukankah
pekerjaanmu di kota ini cukup bagus?”
Sebelum aku menjawabnya seorang bocah penjual
asongan datang menawarkan minuman, tapi tak satupun dari kami yang tertarik
membeli. Bocah lusuh itu pergi dengan raut wajah kecewa.
“Ada banyak hal yang ingin aku lupakan dari kota
ini.”
“Termasuk aku?”
Aku tersenyum kecil sambil meliriknya. Bagaimana
mungkin itu terjadi.Setiap kali aku berusaha melupakannya, yang kudapati malah
sebaliknya. Akusemakin sering memikirkannya. Bahkan diam-diam selalu mengintip
media sosialnya. Mencari segala hal yang berkaitan dengannya. Membaca setiap
postingan status bahkan mencari informasi dengan siapa dia menjalin hubungan. Dia
adalah hal yang tak bisa hilang begitu saja. Sesibuk apapun aku dengan
pekerjaanku. Sekuat apapun aku memulai hubungan dengan orang lain. Perasaanku
masih tetap sama. Meski ia tidak tahu apa-apa.
“Kamu yakin tidak ingin mengatakan apa-apa Aini?”
Pertanyaan itu membuatku sadar kalauaku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri
beberapa menit yang lalu.
“Tak ada apa-apa. Aku hanya sekedar ingin bertemu
saja. Mungkin sebaiknya kita pulang.”
***
Dan pertemuan itu tetap seperti
pertemuan-pertemuanku sebelumnya. Pertemuan yang selalu mampu membuatku menelan
kembali segala perihal yang ingin kusampaikan. Pertemuan yang masih menunggu
pertemuan selanjutnya. Pertemuan yang hanya bisa kami bicarakan pada udara di
sekililing kami. Pertemuan dengan ucapan perpisahan cukup berat. Pertemuan yang
dengan jawaban; seharusya tidak perlu ada pertemuan. Pertemuan yang memberiku
kesimpulan bahwa adasesuatuyang belum selesai diantara kami.
Makassar 2016
Cerpen yang keren.
BalasHapusMakasih sudah membacanya ☺☺. Salam kenal..
Hapus